Jumat, 19 Desember 2008

NAIF


begitu banyak kabut itu..
sehingga menutup semua pandangan mataku..
begitu banyak duri yang membuatku berhenti melangkah demi sebuah tawa..

aku takut menjadi terbiasa..
aku takut gagalkan semua..

dan ketakutan itu menjadi bayang-bayang yang menakutkan..

di sisi jiwa aku takut pasrah dan melupakan seolah bahagia..

tapi ini benar adanya..

aku benci harus tertawa..
dibalik sesuatu yang sebenarnyatak pantas untuk tertawa..
dan kini ketakutan itu sedang tertawa..

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda